Saturday, March 18, 2017

The PERFECT Boyfriend

Saya punya target untuk nulis 2 tulisan setiap bulan, tapi sempai hari ini sudah bulan Maret baru terbit 1 tulisan. Alamak… Macam mana pula, banyak kali post yang harus aku tulis. 
Sebenarnya minggu-minggu lalu lagi banyak topic yang mau di share, tapi waktu nulisnya itu lho yang gak ada. Akhirnya pas pengen ditulis sekarang, feel-nya udah gak dapet euy. Jadi bingung deh saya. Saya akan coba dalam beberapa hari ini tulis tentang hal-hal yang dari minggu lalu saya udah mau share. Semoga saya bisa make it, aminnnn.
Sebenernya saya juga belom niat nulis sih sekarang, lagi mau kerjain laporan keuangan bulanan saya. Pas lagi mau cari file tersebut, saya enggak sengaja klik folder yg isinya quotes. Maksud hati sih cuma mau baca-baca aja, eh ketemu satu quote yang bikin saya nyengir sebentar pas bacanya. 

Pastinya pada penasaran juga kan. Nih aku post yah quotesnya. 


Saya cuma mau share betapa interestingnya quotes ini tanpa membahas tentang hidup saya secara pribadi di area ini dengan lebih lanjut, hehehe. It's still private & confidential :D

Pas saya baca 3 kriteria utama diatasnya, saya merasa saya bisa menemukan orang-orang dgn karakter doesn’t drink (tidak minum minuman keras), doesn’t smoke (tidak merokok), doesn’t cheat (tidak curang/menipu) ini dengan mudah. Bisa dibilang hampir 100% (sepengetahuan saya) cowok-cowok di gereja saya lolos kategori doesn't smoke & drink. Kalo doesn't cheat enggak tahu deh, gak berani guarantee deh, saya kan enggak kenal mereka semua secara dekat. Tapiiiiii, begitu baca baru ke-4, saya setuju bahwa a perfect boyfriend DOESN'T EXIST, meskipun dia lolos 3 kriteria di atas. 

Setiap orang pasti punya kelebihan dan kekurangannya. Saya adalah orang yang suka memperhatikan dan suka menganalisa. Bahkan setiap kejadian kecil yg saya lihat dan rasakan pun saya bisa analisa. Nonton film satu aja, nyangkut di kepala sampai seminggu. Saya bisa mikirin perasaan orang-orang di film tersebut setelah kejadian-kejadian di film tersebut. Enggak ada maksud untuk mikirin, tapi somehow saya masih bisa kepikiran, seakan-akan orang itu hidup nyata dalam kehidupan saya. 

Dalam kehidupan saya pun, saya menganalisa setiap orang yang masuk dalam hidup saya, orang itu kelebihan apa, kelemahannya apa, gimana cara dia berkomunikasi, prinsip-prinsip apa yang dia pegang, dan lain-lain. Sepanjang saya menganalisa, saya tidak menemukan satu orang pun yang sempurna sampai hari ini. Jangankan perfect boyfriend, there is also no perfect father, mother, sister, brother, son, daughter, boss, bahkan pembantu. Yang perfect itu ya cuma satu. Tuhan. (tolong dibaca titiknya yah). Bahkan kamu dan saya pun tidak sempurna. 

 Jadi, if you wish to find someone perfect, this is too much, atau bahasa Indonesia-nya: permintaan mu berlebihan. Even if you wait until you died, you will never ever find him/her.  So stop looking and wishing for someone to be perfect, this will never happen. 

Aduh, berat ya tulisan saya. Saya pun tertusuk dan tertohok sendiri. Jleb jleb jleb. Most of the time, karena saya orang yang perfectionist, saya seringkali juga berharap orang lain juga sempurna. Padahal saya pun sendiri juga gak sempurna. Gak adil sekali saya. Saya taruh beban yang terlalu berat di pundak orang lain yang hidup disekeliling saya yang saya pun tidak bisa tanggung.

Orang yang sempurna itu definitely tidak ada. Jadi gimana dong? Apakah kita harus terima orang apa adanya? Mungkin ada 2 hal yg saya bisa tuliskan sebagai solusinya:

1. Carilah orang yang mau berjalan terus menuju garis kesempurnaan
Saya sadar saya tidak akan bisa menemukan orang yang sempurna, tetapi saya bisa menemukan orang yang mau berjalan menuju garis kesempurnaan. Saya percaya bahwa nobody is perfect, tetapi setiap orang bisa berjalan lebih dekat dan terus lebih dekat ke garis kesempurnaan. Apa itu garis kesempurnaan? Apa yang sempurna? Tadi kan saya udah bilang kalo yang sempurna itu cuma dan hanya Tuhan. Tidak ada lagi. Kalo orang mau jadi makin sempurna, dia harus berjalan kepada Tuhan dalam hidupnya. Dia harus takut akan Tuhan. Ketika seseorang takut akan Tuhan, dia akan takut berbuat dosa, dan dia akan berjuang untuk semakin mirip dengan Tuhan. Nah, kalo makin mirip sama Tuhan, berarti dia makin sempurna dong karena Tuhan kan sempurna. Makin takut akan Tuhan, makin bagus lagi karakternya, dan makin sempurna lagi.

Jadi, gak perlu mencari yang perfect bangeeettt,yang penting takut akan Tuhan. 

Aduh, jleb. Saya tertusuk lagii hahahaha. Ampuni saya ya Tuhan :D

2. Learn to accept not just his/her strength, but also his/her weakness
Seseorang yang saya cukup hormati pernah bilang kayak gini sama saya, “Kalo kamu cari pacar/ calon suami, jangan cuma bisa terima kelebihannya dia doang, tapi kamu harus bisa terima juga semua kekurangannya.” Orang yang pernah bilang kalimat ini sudah meninggal, tapi apa yang dia katakan masih saya ingat sampai hari ini. 

Saya setuju dengan pendapat tersebut. Lagi-lagi, sedekat apapun dia dengan garis kesempurnaan, tidak ada satu orangpun yang sempurna. Pasti ada kekurangannya, entah itu fisik, entah itu karakter, sikap, sifat, dll. Betapa mudah bagi kita untuk bisa menerima kelebihan orang lain. Oh dia baik, dia rajin, semangat, pintar, dll. Tapi coba lihat lebih dalam, lihat ke dalam kekurangannya, apa kamu bisa terima juga? Jangan di-ignore (oh gapapa) kok, atau cuma terima asal-asalan dengan harapan suatu hari dia juga pasti bisa berubah. Suatu hari dia juga pasti berubah karena saya. Really?

Think about the worst case. Gimana kalo ternyata dia tidak berubah-berubah juga dan tetap seperti itu? Kalo fisik yah gak bisa berubah kecuali dia operasi plastik. Kalo karakter, jangan harap berubah dalam waktu singkat. Karakter di bentuk dalam waktu yang tidak sebentar. Kalo saat ini orangnya umur 20, ya 20 tahun itulah waktu yang dia perlukan sampai jadi dia yang sekarang ini. Kalo proses pembentukannya aja 20 tahun, do you wish him to change just in 1 night? Do you wish him to change just because he/she changes his/her status into your boyfriend/girlfriend/husband/wife? Definitely NO. Berubah status mah gampang, gak pake lama, 1 hari cukup. Apa karena setelah dia pakai cincin kawin lalu dia menjadi seseorang yang berbeda?

Jadi, belajarlah untuk menerima orang bukan cuma dengan segala kelebihan yang dia punya, tetapi juga segala kekurangannya. 

Yang paling penting ya syarat yang no 1, setelah itu, baru yang no 2 (learn to accept his/her weakness). Kalo gak bisa terima gimana? Say good bye, zai chien, tschuss aufwiedersehen, and thank you. Mending gak usah kalo enggak bisa terima. Carilah orang lain dengan kekurangan yang kamu masih bisa terima. As simple as that. Se-simple itu aja kok. *ngomong gampang Len, hahahaha*Bentar lagi saya ditimpuk yang baca, wkwkkwk. 

Udah kok, itu aja yang saya mau sampaikan, hehe. Semoga berkenan di hati. Kalo tidak berkenan, maafkan saya, tapi saya akan tetap menulis :D

Have a great day :)

Monday, February 27, 2017

In Life, You Don't Get What You Deserve, You Get What You Negotiate


In life, you don't get what you deserve, you get what you negotiate.

Di dalam hidup, kamu tidak mendapatkan apa yang kamu pantas terima, tetapi kamu mendapatkan apa yang kamu negosiasikan.

Sudah lama quotes ini mejeng di Profile Picture Whatsapp saya. Kenapa? Karena quote ini sangat inspiring buat saya. Hal ini mengingatkan saya bahwa di dalam hidup kita harus terus berusaha.

Kadang saya lupa dan akhirnya sama sebel sama orang yang kerjanya nawar terus. Saya ada satu client di tempat kerja saya yg setiap kali mau beli, pasti tanya harga, pasti nawar terus. Dikasih discount 20%, minta 50%. Lagian ada yg disc 50%, minta disc 70%. Saya bilang enggak bisa, sudah aturan perusahaan. Kadang mereka nego terus sampai bilang coba tanyain bos kamu. Akhirnya saya tanyain dong ke bos saya. Kadang udah mentok, malah saya yang diocehin karena tanya hal-hal yang seharusnya saya sudah tahu, diskon sudah segitu kok malah ditawar lagi. Tapi kadang-kadang bisa berhasil juga lho. Lumayan mereka bisa dapat tambahan disc 5%-10%.

Terkadang saya suka sebel sama mereka yang kerjanya nawar melulu, tapi saya pikir - pikir lagi. Sebenarnya mereka hanya berusaha kok. Jadi jangan sebel, Len. Nawar itu haknya mereka, dapat ya bersyukur, enggak dapet ya udah. Yang penting sudah berusaha. Nothing to lose kok. Sekarang ini setelah saya sadar apa yang menjadi alasan mereka, saya tidak sebel lagi, terinspirasi malah. Akhirnya sekarang kalau beli apa-apa nego terus sampe dapat harga yang bagus. Sampe kalo belanja sama ade saya, terus udah sreg sama barangnya tinggal urusan tawar menawar, dia serahkan ke saya suruh nawar.

Kenapa saya terinspirasi? Karena dalam hidup memang kita akan jarang sekali (kemungkinannya 0.0001% kali yah haha) menerima apa yg saya pantas terima. Saya merasa pantas kok dapat gaji sekian, tapi toh says enggak dapat. Apa yg saya lakukan ya saya nego sm perusahaan. Kalo saya merasa nego yg sy lakukan tidak ada hasilnya, saya akan lakukan cara lain. Sy mulai cari kerjaan lain atau bikin plan lain. Intinya, saya bernegosiasi dengan hidup saya ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai dengan apa yang saya inginkan.

Kenapa perlu nego? Karena banyak hal bisa berubah ketika kita melakukan negosiasi. Kalo kita nawar, tas yang tadinya 150,000 bisa jadi 100,000 aja. Di Alkitab pun Abraham nego sama Tuhan tentang Sodom dan Gomora. Yang tadinya Tuhan bilang, kalo ada 50 org yang hidupnya takut akan Tuhan, Dia tidak akan membakar kota itu. Abraham nego sm Tuhan, akhirnya, Tuhan deal kalo ada 10 orang aja yg hidupnya benar, Tuhan tidak akan bakar kota itu. Abraham nawar harga sampai 1/5 dari harga awalnya. Meskipun pada akhirnya kota itu di bakar juga (krn tidak ada 10 org yg hidup benar di kota itu), toh setidaknya Abraham berhasil nego sm Tuhan dr 50 jd 10.

Berdasarkan pengalaman sy sendiri pun, saya merasa bahwa dalam pekerjaan saya yang sekarang: Allianz, saya harus banyak bernegosiasi. Sebagian ada yang berhasil sebagian lagi tidak. Tapi saya akan terus bernegosiasi sampai akhir. Saya akan bener-bener try my best. Kadang orang berpikir bahwa saya berhenti, tapi saya tidak berhenti sampai disana. Saya hanya sementara mengalihkan perhatian saya pada hal atau orang lain. Why do I negotiate? Tuhan aja di nego bisa berubah pikirannya, apalagi manusia. Dalam menjalankan pekerjaan ini, saya pun nego (berdoa) terus sama Tuhan sambil terus berusaha. Dan saya bersyukur Tuhan menunjukkan jalannya.

Seringkali saya bertemu orang yang tidak puas dengan keadaannya, kemudian saya tantang untuk berubah, tapi dia tidak mau. Tapi beberapa hari kemudian dia tidak happy lagi. Saya tantang lagi untuk berubah, tetapi tetap tidak mau. Entah alasannya susah, engga lah, engga mungkin, dah telat Len, saya dah ketuaan, tidak bisa lah, aku bersyukur aja terima semua ini. paling mentok bilang bahwa dia mau mensyukuri keadannya. Tetapi sayangnya syukurnya kepada Tuhan hanya berlangsung beberapa hari. Beberapa hari kemudian, mulai dia complain lagi tentang ketidaknyamanan kondisinya. Alasan bersyukur ini terdengar baik dan religius, tetapi nego dengan bersyukur itu berbeda. Bukan 2 hal yang tidak bisa berjalan bersamaan. Saya bernegosiasi kepada Tuhan dan customer saya, tetapi saya juga bisa bersyukur apapun hasilnya.

Menurut saya, gila adalah: mengharapkan sesuatu yang berbeda dengan mengerjakan sesuatu yang terus sama. Saya percaya bahwa hidup ini bukan untuk dipasrahkan saja. Ada banyak negosiasi yang bisa kita lakukan. Tuhan kasih kita hikmat, kepandaian, akal budi, & otak untuk kita bisa berpikir dan membuat perubahan dalam hidup kita dan orang lain. Kalo pengen penghasilan yg lebih baik, berjuanglah, bekerja keraslah, carilah peluang di tempat lain yang punya sistem yang lebih baik, dan berdoalah. Kalo mau punya hubungan yg lebih baik dengan keluarga, perjuangkanlah, kasih waktu untuk keluarga, dan berdoalah. Kalo pengen kurus, ya diet, olahraga, makan yg sehat2, dan berdoa juga minta kurus, hehehehe.  Intermezzo, doa juga adalah salah satu proses negosiasi lho

Negotiate your life, berusahalah dan beruabahlah. Karena memang dalam hidup kita tidak menerima apa yang kita pantas terima, kita akan terima apa yang kita negosiakan.


Saturday, October 29, 2016

3 Alasan Anda Tidak Membutuhkan Asuransi

Banyak orang yang menyuarakan pentingnya memiliki asuransi. Pemerinatah melalui program BPJS-nya adalah bukti nyata betapa pemerintah menyadari pentingnya asuransi bagi kesejahteraan dan ekonomi masyarakat. Tetapi, apakah benar asuransi itu memang begitu penting? Mari kita teliti lebih lanjut lagi.

Menurut saya secara pribadi, asuransi (dalam konteks ini asuransi jiwa) itu tidak penting JIKA:

1. Anda memilih asuransi pribadi atas nama keluarga Anda
Suka tidak suka, bisa terima atau tidak bisa terima, kita semua punya asuransi pribadi, atas nama keluarga Anda sendiri. Asuransi Sihombing, Asuransi Wijaya, Asuransi Sirait, Asuransi Helen, dll. Saat Anda sakit atau kecelakaan, seluruh biaya pengobatan akan ditanggung oleh seluruh pihak keluarga. Biaya pengobatan/RS/dokter tidak peduli apakah asuransi keluarga Anda itu punya cukup modal atau tidak. Kalau kuat, ya bersyukurlah. Kalau tidak kuat, yang tadinya punya rumah, jadi harus dijual dan terpaksa ngontrak atau pindah ke rumah yang lebih kecil. Yang tadinya punya mobil, harus dijual juga. Yang tadinya anak-anak bisa sekolah di sekolah bagus tanpa masalah, sekarang harus pindah ke sekolah biasa yang lebih murah. Yang tadinya istri bisa bekerja setiap hari tanpa beban, sekarang harus telepon sana sini untuk minta pinjaman. 

Kalau menurut saya, cara ini jauh lebih menyakitkan daripada mempercayakan diri Anda untuk di asuransi oleh sebuah perusahaan asuransi yang jauh jauh lebih kuat modalnya dan lebih pasti, seperti Allianz. 

Anda mau jadi perusahaan asuransi sendiri atau biarkan Allianz yang melindungi Anda sekeluarga? 
2. Anda rela apa yang sudah Anda miliki saat ini hilang pada saat yang tidak terduga
Apakah Anda rela apa yang sudah Anda miliki saat ini hilang pada saat yang tidak terduga? Anda sendiri yang bisa menjawabnya. Apa yang Anda miliki saat ini? Uang tabungan, rumah, mobil, motor, investasi dalam bentuk uang, emas, cita-cita, masa depan keluarga, dll. Hal ini bisa hilang dalam sekejab ketika Anda tidak memiliki asuransi. Ketika Anda tidak memiliki uang cash pada saat itu untuk biaya pengobatan, apa yang akan Anda lakukan? Anda akan menjual segala hal yang Anda miliki untuk ditukar dengan uang cash. Apakah ini pilihan yang mau Anda pilih?

Asuransi tidak bisa menghindarkan Anda dari sakit, hidup sehatlah yang bisa. Asuransi juga tidak bisa menjamin Anda pasti sembuh, Tuhanlah yang meberikan kesembuhan. Tetapi asuransi bisa melindungi asset yang Anda kumpulkan dalam waktu yang lama sehingga tidak habis dalam sekejab. Asuransi dapat memberikan uang cash sehingga Anda tidak perlu menjual setiap harta benda Anda. Bahkan, asuransi dapat membuat Anda dan keluarga Anda tetap hidup karena uang proteksi yang dapat digunakan untuk membiayai kehidupan Anda sehari-hari. 

Anda perlu menyadari bahwa ketika Anda sakit kritis/megalami kecelakaan/cacat tetap total, biaya hidup, biaya pendidikan anak, kos/kontrakan, makan, internet, pulsa, transportasi, listrik, air tidak akan berhenti. Punya atau tidak punya uang, biaya ini akan jalan terus dan memaksa kita mencari cara untuk mendapatkan uang besar dalam waktu singkat karena mendesak. Kalau ada cara yang lebih mudah dengan cara menabung uang kecil untuk mendapatkan uang besar pada saat dibutuhkan, mana yang akan Anda piih?

Siapkah Anda jika hal ini terjadi pada Anda?

3. Anda kebal dari sakit, cacat, kecelakaan, meninggal, tua
Asuransi mutlak tidak dibutuhkan kalau kita manusia tidak kebal dari sakit, cacat, kecelakaan, meninggal, ataupun tua. 

Masalahnya adalah:
1. Kita, manusia, tidak kebal dari sakit, cacat, kecelakaan, meninggal, ataupun tua.
2. Apakah kita bisa pilih kena yang mana? Misalnya, saya mau langsung meninggal aja gak usah sakit dulu deh. 
3. Sakit apa? Pilek aja deh, jangan kanker.
4. Yang kena siapa? Jangan saya, orang lain saja. 
5. Biaya berapa? Max 5 juta aja yah, jangan 200juta, saya gak punya uang.
6. Kena yang mana pun, bukannya tetap butuh uang? Pasti
7. Uangnya mau ambil dari mana? Tabungan pribadi atau tabungan + proteksi yang ada di Allianz???

Asurasi itu sangat tidak penting BILA...

Anda sendiri yang bisa menjawab pertanyaan tersebut.

Pada akhirnya, Anda harus bisa terima bahwa Anda dan saya membutuhkan asuransi jika kita tahu bahwa:
1. Saya tidak mau dan tidak memilih menjadi perusahaan asuransi bagi keluarga saya sendiri
2. Saya tidak rela apa yang sudah Anda miliki saat ini hilang pada saat yang tidak terduga
3. Saya tidak kebal dari sakit, cacat, kecelakaan, meninggal, tua
Selagi masih ada pilihan, waktu, uang, dan masih sehat, ambillah keputusan yang benar dan mulai menabung. Akan ada waktunya kita sudah tidak bisa memilih lagi dan hanya bisa pasrah atau melakukan banyak usaha yang lebih berat dan menyakitkan ketimbang menabung dari sekarang.

“Masa depan ialah milik mereka yang menyiapkannya hari ini”

Contact me for details:
Helen (0838-047-567-22/av_moolens@yahoo.com)

Mari berasuransi


Tuesday, October 4, 2016

Prepare Yourself Now for A Better Future

Artis papan atas Indonesia, Mike Mohede meninggal secara mendadak beberapa waktu lalu, tepatnya pada 30 July 2016 dalam usia 32 tahun. Penyebab kematiannya yang diberitakan melalui media masa adalah karena serangan jantung. 

Saat ini, syarat meninggal tidak harus sakit dahulu berbulan-bulan. Usia muda bukan berarti kita bebas dari segala penyakit dan berarti kita akan panjang umur. Sudah banyak kasus dari kerabat, saudara, dan bahkan artis-artis papan atas Indonesia yang sakit dan meninggal di usia muda. Sakit dan meninggal tidak mengenal umur. Apakah Anda siap? Apakah keluarga Anda secara mental dan financial? 

Pada saat pertama kali di launch, kapal Titanic tidak pernah diramalkan untuk tenggelam. Bahkan, orang-orang pada saat itu menyebutkan bahwa Tuhan aja tidak mungkin bisa menenggelamkan kapal ini. Karena keyakinan dan kesombongan mereka, akhirnya mereka hanya mempersiapkan sedikit sekali sekoci. Apa yang terjadi? Kita semua tahu bahwa kapal ini menabrak gunung es dan kemudian tenggelam. Sekoci yang mereka persiapkan tidak cukup untuk semua penumpang. 

Begitu pula dengan hidup kita, tidak ada yang mau sakit, tidak ada yang mau tertimpa kecelakaan, catat, tua, ataupun meninggal. Tetapi yang harus kita ketahui adalah, semua hal itu sangat mungkin terjadi pada kita, bahkan di segala usia. Jika orang lain bisa kena, apa alasannya sehingga kita tidak bisa kena? Jika hal itu terjadi, apakah kita siap secara mental dan financial?

Asuransilah yang dapat membantu Anda mengumpulkan uang kecil untuk mendapatkan uang besar di saat Anda tidak sehat. Asuransilah yang dapat membantu Anda dan keluarga bisa bertahan hidup ketika salah satu dari anggota keluarga Anda sakit. Asuransilah yang mampu menjaga aset yang sudah Anda miliki saat ini sehingga semuanya tidak dijual untuk dokter karena biaya kesehatan yang begitu mahal. 

Asuransi tidak dapat membuat Anda sehat kembali pada waktu Anda sakit, tetapi pada saat Anda sakit, ada biaya-biaya yang tetap harus berjalan, makan, internet, pulsa, kontrakan/kos, biaya sekolah anak, transportasi, listrik, air, dll. Asuransi juga tidak dapat meluputkan Anda dari kematian. Tetapi pada saat Anda pergi, Anda harus tahu bahwa ada orang lain yang harus tetap hidup disaat Anda tidak ada.

Menabung di asuransi tidak akan membuat Anda miskin, tetapi tidak punya asuransilah yang akan membuat Anda bisa jatuh miskin ketika waktu yang tidak pernah diharapkan itu tiba. Anda boleh saja mencari uang dan menabung untuk banyak hal yang menjadi mimpi Anda untuk memiliki apa yang tidak belum Anda miliki hari ini. Tetapi jangan lupa untuk melindungi apa yang saat ini sudah Anda punya. Karena jika Anda tidak melindunginya dari sekarang, Anda akan membayar mahal suatu hari nanti. 

Prepare yourself now for a better future. Contact me for details.

Friday, September 30, 2016

10 Important Career Lessons Most People Learn Too Late In Life

Today I want to share about this article. Not written by me, however I found that this is very good & very recommended to be read by everyone. Hope this information could be useful.

10 Important Career Lessons Most People Learn Too Late In Life
By: Bernard Marr (Best-Selling Author, Keynote Speaker and Leading Business and Data Expert) via Linkedin, September 18, 2016

Keep your head down and your nose to the grindstone. That’s what a lot of us were taught to believe about work. But is it really the best strategy?

I find that people often take this sort of advice to heart — and then learn too late in their careers that there’s more to life (and success) than just keeping busy.

I’ve gathered up my top 10 lessons you should take to heart now, before it’s too late!

1. Life is short.
Here’s the thing: Life is too short to put up with a job you hate, a boss who demeans you, or a company with no soul.  Many people convince themselves that they can put up with a job or career situation that makes them unhappy because they need the income, because they don’t know if they can find another job, or for some other reason. But the truth is none of us knows how long we have on this earth, and spending too much of it in a bad situation will only make you miserable and regretful. If you’re in this situation, take a step today — no matter how small — toward a better situation.

2. Social networks matter.
You might think that networking events are dull, that it’s boring to chat with coworkers around the watercooler, or that you’re simply a born introvert, but study after study confirms that social networks are vital to our success. In fact, the most successful people tend to have the broadest and most diverse social networks. The more time and effort you put into nurturing your social networks, the more successful you are likely to be.

3. Sacrificing your health for success or wealth isn’t worth it.
Many driven, successful people have a hard time creating work/life balance and can end up burning out or developing serious health problems from stress and overwork. The truth is, it’s much easier to stay healthy than to heal from a problem or disease — and no amount of success or money can replace your health. Don’t take your health for granted and take steps to mitigate stress that could cause problems later.

4. None of the best moments of your life will take place looking at a screen.
In our connected world, it’s tempting to let all the little screens we have access to dictate our lives. But you’ll never reach the end of your life wishing you’d spent more time checking email on your phone. Disconnect regularly and experience real life.

5. Never stop learning.
With the rate at which technologies are changing today, if you decide that you are “done” learning, you will be left behind within a matter of years, if not sooner. The idea that you can’t teach an old dog new tricks is blatantly false, and you will never wake up and regret having invested in your mind by learning something new.

6. Diversify.
Hand in hand with learning, if you stick to only doing what you know, or what you are good at, you may quickly find that you’re only good at one thing. We need to be agile, nimble, and interested in many different things. Otherwise, you could get stuck in a job or career you don’t love, or that goes with the times. Think of the taxi driver threatened by Uber or the customer service person replaced by a chatbot.

7. You can go fast alone, but you can go farther together.
In other words, teamwork makes the dream work. Many people claim they don’t like to work in teams, but the ability to work well in teams is vital if you want to succeed. The idea of the solo auteur is a myth; every big idea needs a team to make it happen.

8. Worrying doesn’t achieve anything.
The antidote to fear and anxiety is action and hustle. If you’re wasting time because you’re afraid to pursue an idea, speak up, or are worried what others will think of you, you won’t achieve your goals. If you push through the worry and the fear, however, and take action, you’ll almost always find that you were worried about nothing.

9. Failure is not an end.
 If you give up when you fail, you’ll never learn anything. Instead, look at failure as an opportunity, as the beginning of a new journey. If you do, you’re much more likely to try again and succeed at something else.

10. Happiness is a journey, not a destination.
 So many people put off their happiness; they think, “I’ll be happy when I get that job, when I lose that weight, when I’m in a relationship, when I’m out of a relationship…” and so on. But we can choose to be happy.  Happiness is a habit and a choice. No matter what your situation, if you can approach it with an attitude of happiness, you will be more successful.