Pride

Aku bisa tergolong sebagai salah satu orang yang kurang menyadari bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mungkin karena aku lumayan enjoy hidup sendiri kali yahh, sampai-sampai aku kadang merasa tidak butuh orang lain. tapi ternyata aku salah. Bagaimanapun juga, manusia ialah makhluk yang tidak bisa hidup sendiri dan selalu membutuhkan orang lain dari awal sampai akhir hidupnya.

Tapi akhir-akhir ini aku mulai mengerti bahwa manusia (terutama aku) perlu bantuan orang lain. Masalahnya cuma satu, kita yang merasa butuh bantuan seseorang cenderung memilih untuk diam dan memegang teguh pride yang kita miliki. Kita bertindak seolah-olah kita tidak perlu siapa-siapa. Kita merasa kita tidak butuh bantuan orang lain. Kita bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja dan kita lebih memilih orang lain mampu membaca pikiran kita dan menanyakan, “what’s wrong with you?” Setelah orang lebih dahulu bertanya pada kita, barulah kita menceritakan dan menyatakan bahwa kita butuh bantuan.

Pertanyaannya, sampai kapan kita akan tetap seperti itu? Memegang teguh pride (gengsi) kita dan tidak mau berendah hati untuk menyatakan kalau kita memang butuh bantuan atau care atau masukan (input) atau apapun juga. Sampai kapan kita mau terus menunggu supaya orang lain bisa care duluan sama kita?

Beberapa hari yang lalu aku set waktu ngobrol dengan seorang teman aku, karena memang aku butuh bantuan. Aku butuh masukan dan aku juga mau tahu tentang kisah hidupnya dia lebih banyak. Denger-denger katanya pergumulan kita sama.. Ya, harapan aku sih aku bisa belajar banyak juga dari pengalaman dia. Dan termyata percakapan itu cukup berkualitas dan berguna. Aku jadi punya pandangan yang baru dan lebih semangat. Aku jadi tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku bersyukur pada saat itu aku bisa bilang kalo mau ngobrol. Sebuah kata yang secara tidak langsung mengutarakan, “I need your help.” Aku bersyukur aku bersikap aktif dan melepaskan sekantong pride dan mengakui bahwa aku memang butuh bantuan. Terlepas akan dibantu atau enggak, jika kita butuh bantuan, maka gengsi-gengsi yang memberatkan itu memang harus dilepaskan dulu.

Dulu aku cenderung lebih pasif. Lebih berharap orang akan datang duluan ke aku, menanyakan kabarku, mengajakku ngobrol, dan barulah kemudian aku bisa terbuka. Tapi bagaimana jika orang lain juga menunggu aku untuk melakukannya duluan? Mungkin selamanya kita tidak akan pernah bisa ngobrol. We will always be stranger to each other. Tapi sekarang, yah aku coba untuk memulai percakapan dahulu dengan orang lain. Atau jika aku butuh bantuan, aku akan ngomong ketimbang menunggu orang lain mendapat ilham dari langit bahwa aku butuh bantuan and need their care. Kan ada tertulis juga, “Segala sesuatu yang ingin orang lain perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian.”

Ya, pada dasarnya kita semua adalah makhluk sosial dan membutuhkan satu sama lain. Kita bukan makluk ansos lho. Tapi, sejauh mana karakter social atau ansos kita tergantung dari sejauh mana kamu mau meninggalkan gengsi kamu untuk sekedar menyapa, tersenyum, ajak ngobrol, atau bahkan bilang bahwa kamu butuh bantuan. Ingat, orang lain bukan Tuhan yang selalu tahu apa yang kamu butuhkan. So, you need to say it first.






Jadi gimana? Masih mau gengsi-gengsian, hai kalian makhluk social? hehehe..Think again!

Comments

  1. Aku harus bersaksi tentang perbuatan baik dari Ibu Amanda Amanda Badan Kredit. Saya Husnah dan saya mengambil waktu saya keluar untuk bersaksi Ibu Amanda karena dia akhirnya menawarkan apa yang tidak ada orang lain bisa.
    Saya dan suami saya masuk ke utang yang sangat besar dengan debitur dan Bank dan kami mencari pinjaman dari perusahaan pinjaman yang berbeda tetapi semua datang ke sia-sia. sebaliknya mereka membawa kita ke dalam lebih banyak utang dan berakhir meninggalkan kami bangkrut sampai saya datang di kontak dengan Ibu Amanda, Dia menawarkan saya pinjaman meskipun pada awalnya saya takut itu akan berakhir seperti setiap perusahaan pinjaman lain saya datang di tapi dia tidak seperti mereka. Sekarang kita telah akhirnya menetap utang kami dan memulai bisnis baru dengan uang yang tersisa dari pinjaman.
    Hubungi Ibu Amanda melalui salah satu email berikut. amandaloan@qualityservice.com atau Anda dapat menghubungi saya melalui email saya untuk arahan lebih lanjut ikmahusnah@gmail.com

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts